Baper

by - 12.11

Kalau ada yang nanyain aku, kata apa yang ingin kuhapus dari dunia ini adalah kata "baper".
Baper itu bawa perasaan. Istilah ini sering dipake buat anak kekinian dalam dialog pergaulan saat seorang temannya mengungkapkan atau mengekspresikan apa yang dirasakannya.

Padahal, baper tidak selamanya berkonotasi negatif. Baper adalah rasa pengungkapan bahwa kita sebagai makhluk hidup ya punya hati, punya perasaan. Tapi entah kenapa bagi sebagian orang jikalau kita menunjukkan sesuatu yang tidak bisa kita terima malah dibilang baper. Dibilang anaknya gak bisa selow.

Sebagai contoh ada anak bernama A yang mukanya sedang berjerawat seperti yang aku alami (memang lebih tepat aku sih). Ada beberapa orang yang menganggap bahwa penyebab aku berjerawat ini adalah gak pernah cuci muka. Padahal tidak ada yang tahu kalau aku benar-benar berusaha setiap hari untuk selalu mengingat cuci muka. Jika aku mengemukakan bahwa aku tidak suka dia memperhatikan jerawatku, maka dia akan mengatakan bahwa aku baper.

Lain cerita saat aku memiliki 4 orang teman yang diantaranya ada 2 orang yang memiliki pemikiran sendiri sehingga memilih untuk bermain berdua saja. Jika aku menegur mereka jangan berkelompok, salah satu dari mereka akan mengatakan aku baper dan sans aja lah. Padahal tidak semua bisa dianggap sans atau santai saja pada kenyataannya. Faktanya yang berpikiran seperti itu adalah orang yang gak pernah perduli sama perasaan orang lain. Dan dia jug berharap dengan dia mengatakan orang lain baper maka orang lain itu juga memiliki sifat yang kaku dalam perasaan sama seperti dirinya.

Aku membenci kata "baper" karena hal itulah yang membuat seseorang menjadi menjaga jarak antar orang lain. Baper menjadi sesuatu yang membuat kita menjadi orang yang terlalu serius dan tidak terlihat santai. Padahal sah-sah saja kalau ingin menunjukkan ekspresi, itu berarti kita punya hak untuk mengungkapkan diri kita yang sebenarnya. Enggak palsu seperti dia yang selalu berlindung dengan mengatakan temannya baper dan dia jadi terlihat orang yang low profile. Justru dia lah yang harus mengganti sudut pandangnya bahwa dengan menghargai perasaan orang lain, maka orang lain juga menghargai perasaanmu. Bukannya semua orang akan saling nyaman kalau saling menghargai dan melindungi perasaan satu sama lain?


You May Also Like

0 komentar